aringendut.blogspot.com

PUISI “MENGURAI SERATUS PURNAMA”

MENGURAI SERATUS PURNAMA


 

Apakah arti sebuah jiwa ?

Ku dengar dari balik sunyi sesayup suara

" Di seluruh semesta, di pinggiran kuala, di tepian samudra "

Kemudian, adalah butir – butir pasir di laut

Tak pantas kecuali seluruh senyum dan tangisnya hanya Tuhannya


 

Dimanakah kini ?

Tertegun di persimpangan lorong berbatu

Mengais – ngais basah, mengulum resah

Lihatlah sekelilingmu

Jalanan kembali senyap

Hanya gemuruh hujan

Acap kali mengores jantung purnama

Meski lahang kecut harus ditelannya

Karena, telah terhidang di meja makannya


 

Mengapakah kini ?

Dengan bekal kesal

Ia belajar di lautan tak bertepi

Tataplah angkasa, langit masih biru

Walaupun dadamu membianglala

Merah – kuning – hijau – lalu hitam

Tak sepatah katapun ia lontarkan padamu


 

Lalu untuk apa ?

Mengurai seratus purnama

Dalam lembaran sujudku

Sejak deru gelombang yang gemuruh

Mengenalkan aku di celah kepedihan

Namun, kubiarkan semua mengkristal dalam gumpalan air mata


 


Label: Puisi, Puisi Alam

0 Komentar untuk "PUISI “MENGURAI SERATUS PURNAMA”"

DOWNLOAD APLIKASI ANDROID ARINGENDUT »

Back To Top